LAPORAN INDIVIDU PRAKTIKUM
TAKSONOMI 1
Identifikasi
Pteridophyta
Dosen Pengampu: Prasetyo, M.Pd

Disusun
Oleh:
NAMA:
DEWI AMANAH
NPM: 12320170
KELAS: 2E
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2013
I.
Judul : Pteridophyta
II.
Tujuan :
1.Untuk
mengetahui morfologi tumbuhan pteridophyta
2.Untuk
mengetahui tumbuhan yang tergolong pteridophyta
III.
Manfaat :
a.Dapat menjadi pengetahuan tentang pteridophyta
b.Dapat mengetahui atau penggolongan
karakteristik pteridophyta
IV. Tinjauan
Pustaka :
Tumbuhan paku (atau paku-pakuan)
adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati (Tracheophyta,
memiliki pembuluh kayu dan pembuluh tapis) tetapi tidak
menghasilkan biji
untuk reproduksi
seksualnya. Alih-alih
biji, kelompok tumbuhan ini mempertahankan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut
dan fungi.
Tumbuhan paku
tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah
kering (gurun).
Total spesies
yang diketahui hampir 10.000, dengan perkiraan 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia.
Sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di daerah tropika
basah yang lembab.
Paku-pakuan
cenderung ditemukan pada kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang
lembab, tebing perbukitan, merayap pada batang pohon atau batuan, di dalam
kolam/danau, daerah sekitar kawah vulkanik,
serta sela-sela bangunan yang tidak terawat. Meskipun demikian, ketersediaan
air yang mencukupi pada rentang waktu tertentu diperlukan karena salah satu
tahap hidupnya tergantung pada keberadaan air, yaitu sebagai media bergeraknya sel sperma
menuju sel telur.
Tumbuhan paku
pernah merajai hutan-hutan dunia di Zaman Karbon
sehingga zaman itu dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah
hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil dan mengalami
mineralisasi sekarang ditambang orang sebagai batu bara.
Menurut
petunjuk-petunjuk paleontologi, banyak yang bersepakat bahwa dari
suatu bentuk tumbuhan paku purba terwujudlah tumbuhan
berbunga, suatu kelompok tumbuhan yang mendominasi vegetasi masa
kini.
Morfologi
Bentuk tumbuhan
paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon,
biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya
berupa terna
dengan rimpang
yang menjalar di tanah
atau humus
dan ental
(bahasa
Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang
bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung seperti gagang
biola
dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu tersusun
sebagai daun majemuk.
Daur hidup (metagenesis)
Daur hidup
tumbuhan paku mengenal metagenesis /pergiliran keturunan, yang terdiri
dari dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku
yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena
menghasilkan spora.
Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil
berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi
memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak
berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat
yang lembap. Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid
atau sel kelamin jantan) dan arkegonium
(archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan
mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium.
Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada
gilirannya tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.
Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) juga memiliki daur
seperti ini tetapi telah berevolusi lebih jauh sehingga tahap gametofit tidak
mandiri. Spora yang dihasilkan langsung tumbuh menjadi benang sari
atau kantung embrio.
Klasifikasi
Secara
tradisional, Pteridophyta mencakup semua kormofita berspora, kecuali
lumut hati, lumut tanduk, dan tumbuhan
lumut. Selain paku sejati (kelas
Filicinae), termasuk di dalamnya paku ekor
kuda (Equisetinae), rane dan paku kawat
(Lycopodiinae), Psilotum (Psilotinae), serta Isoetes (Isoetinae).
Sampai sekarang pun ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok ini disebut pteridologi dan ahlinya disebut pteridolog.
Smith et al.
(2006)[1]
mengajukan revisi yang cukup kuat berdasarkan data morfologi dan molekular.
Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan Isoetes)
merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain,
sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain.
Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung
dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota divisio
tumbuhan paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah
paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum)
ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys),
sementara paku ekor kuda (Equisetum') sama
dekatnya dengan paku sejati terhadap Marattia.
Dengan demikian, berdasarkan
klasifikasi baru ini, tumbuhan paku dapat dikelompokkan sebagai berikut.
Divisio: Pteridophyta
dengan empat kelas monofiletik:
dengan empat kelas monofiletik:
- Psilotopsida, mencakup Ophioglossales.
- Equisetopsida
- Marattiopsida
1. Ciri-ciri Pterydophyta:
Tumbuhan
paku memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berbeda dengan tumbuhan lumut,
tumbuhan paku sudah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Oleh karena itu, tumbuhan
paku termasuk kormophyta berspora.
b. Baik pada akar, batang, dan daun,
secara anatomi sudah memiliki berkas pembuluh angkut, yaitu xilem yang
berfungsi mengangkut air dan garam mineral dari akar menuju daun untuk
proses fotosintesis, dan floem yang berfungsi mengedarkan hasil
fotosintesis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.
c. Habitat tumbuhan paku ada yang di
darat dan ada pula yang di perairan serta ada yang hidupnya menempel.
d. Pada waktu masih muda, biasanya
daun tumbuhan paku menggulung dan bersisik.
e. Tumbuhan paku dalam hidupnya
dapat bereproduksi secara aseksual dengan gemmae dan reproduksi seksual
dengan peleburan gamet jantan dan gamet betina.
f. Dalam siklus hidup (metagenesis)
terdapat fase sporofit, yaitu tumbuhan paku sendiri.
g. Fase sporofit pada metagenesis tumbuhan paku memiliki sifat lebih dominan daripada fase gametofitnya.
g. Fase sporofit pada metagenesis tumbuhan paku memiliki sifat lebih dominan daripada fase gametofitnya.
h. Memiliki klorofil sehingga cara hidupnya
hidupnya fotoautotrof.
Berdasarkan fungsinya :
1) Tropofil
Merupakan daun yang hanya berguna
untuk fotosintesis. Pada daun ini, tidak dihasilkan spora yang merupakan
alat perkembangbiakan tumbuhan paku.
2)
Sporofil
Merupakan jenis daun pada tumbuhan paku yang selain dapat
digunakan untuk fotosintesis juga dapat menghasilkan spora. Spora tumbuhan
paku terletak dalam sorus yang merupakan kumpulan dari kotak spora
(sporangium). Berdasarkan jenis-jenis spora yang dihasilkan, dikenal
tumbuhan paku homospora, paku peralihan, dan paku heterospora.
a) Paku homospora
Merupakan jenis paku yang hanya
menghasilkan spora jantan atau spora betina saja. Contohnya adalah
Lycopodium atau paku kawat.
b) Paku peralihan
Merupakan jenis paku yang dapat
menghasilkan dua macam spora, yaitu spora jantan dan spora betina. Namun,
spora-spora yang dihasilkan tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang
sama. Contohnya adalah Equisetum debile.
c) Paku Heterospora
Merupakan jenis paku yang dapat
menghasilkan spora dengan jenis dan ukuran yang berbeda, yaitu spora
jantan dan spora betina. Spora jantan memiliki ukuran yang lebih kecil,
atau biasa disebut sebagai mikrospora dan spora betina memiliki ukuran
yang lebih besar, atau biasa disebut sebagai makrospora. Contohnya
adalah Marsilea crenata (semanggi) dan Selaginella widenowii.
V. Alat dan Bahan :
Bahan : Tumbuhan paku
VI. Cara Kerja:
a.
Menyiapkan Pteridophyta yang akan di
amati.
b.
Mengamati dengan teliti Ptrridophyta
secara morfologi.
c.
Menentukan cirri-ciri Pteridophyta secara
morfologi.
d.
Membandinglan hasil pengamatan dengan
gambar pembanding.
e.
Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan
Pteridophyta.
f.
Mencatat hasil pengamatan.
VII. Gambar Pembanding

Psilotum Lycopodium cernum

Equisetum
ramosissimum debile

Adiantum
sp Marsilea
crenata
VIII. Hasil Pengamatan
A.
Adiantum cuneatum
Adiantum cuneatum
Ciri-ciri:
a.
Memiliki
rizhoid atau rimpang yang berbentuk serabut
b.
Rizhoid
atau rimpang merayap dipermukaan tanah tidak masuk dalam tanah
c.
Tangkainya
terlihat mengkilap dan kaku
d.
Sorus
terletak disisi bagian bawah daun yang berwarna cokelat dibagian tepi daun dan
letaknya teratur
e.
Percabangan
batang membentuk spiral
f.
Warna
daun berwarna hijau
g.
Bentuk
daun persegi panjang dengan tepi bergelombang
h.
Tekstur
daun tipis
i.
Urat
daun terbentuk secara bebas atau tidak teratur
j.
Percabangannya
pada batang sangat banyak
Klasifikasi Adiantum cuneatum:
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Marginales
Family : Polypodiceae
Genus : Adiantum
Spesies : Adiantum cuneatum
B.
Platycerium coronarium
![]() |
Ciri-ciri :
a.
Daun
menempel pada pangkalnya atau subtrat dan tersusun seperti genting
b.
Daunnya
tebal berdaging
c.
Daun
bulat seperti ginjal
d.
Daun
yang fertil bergantungan bercabang-cabang menggarpu
e.
Daun
berwarna hijau karena mengandung klorofil yang berguna untuk membantu proses
fotosintesis
f.
Daun
sporofil menempel pada substrat
g.
Ibu
tulang bercabang menggarpu dan urat-urat daun saling berdekatan
h.
Bagian
yang tidak menempel pada substrat akan keuar akar-akar dan ruang diantara daun-daun
i.
Rizhoid
merimpang pendek dan merayap diatas
permukaan tanah
Klasifikasi Platycerium coromarium :
Nama umum di Indonesia : Paku tanduk simbar menjangan
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Pteridopsida
Sub kelas : Polypoditae
Ordo : Margiales
Familia : Polypodiaceae
Genus : Platycerium
Spesies : Platycerium coronarium
C.
Cyclophorus nummularifolius
![]() |
Ciri-ciri :
a. Mempunyai batang yang bercabang
b.
Pada
rizhoid memiliki bulu atau rambut (palea)
c.
Daun
lebar (makrofil)
d.
Daun
berbentuk bulat atau lonjong
e.
Sorus
berada ditepian daun yang memanjang
f.
Memiliki
urat-urat daun
g.
Daun
steril untuk berfotosintesis
h. Daunnya tebal
Klasifikasi Cyclophorus
nummularifolius :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Kelas : Filicinae
Sub kelas : Leptosporangiatae
Ordo : Margiales
Familia : Polypodiaceae
Sub familia : Polypodieae
Genus : Cyclophorus
Spesies : Cyclophorus nummularifolius
D. Adiantum
terenum
![]() |
Ciri-ciri Adiantum terenum:
a. Sporangium berbentuk sorus
b.
Sorus
terletak diujung daun bagian bawah, sorus terlindungi indosium
c.
Daun
berbentuk rozet
d.
Daun
tersusun spiral
e.
Bentuk
daun perisai dan bertoreh
f.
Tangkai
daun berdiri tegak
g.
Sorus
tertutup oleh indosium
h.
Sorus
tertata rapi ditepian daun
i.
Batang
mengeluarkan banyak akar dan jika akar tidak masuk ke dalam tanah maka akar itu
menyelubungi batang
Klasifikasi Adiantum terenum:
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Marginales
Family : Polypodiceae
Genus : Adiantum
Spesies : Adiantum terenum
E.
Nephrolepis falcata
![]() |
Ciri-ciri Nephrolepis falcata :
a.
Mempunyai
akar, batang, dan daun
b.
Daun
yang muda menggulung
c.
Akarnya
serabut atau merimpang
d.
Daun
berbentuk menyirip
e.
Daunnya
makrofil
f.
Memiliki
rozet pada ujung daun
g.
Sorusnya
terletak pada bagian tepi bawah daun
h.
Daunnya
indosium melindungi sporangium
Klasifikasi Nephrolepis falcata:
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Nephrolepis
Spesies : Nephrolepis falcata
F.
Pityrogramma Sp
![]() |
Ciri-ciri Pityrogramma Sp :
a. Mempunyai urat daun dan tulang daun
b.
Batangnya
berupa rizhome atau akar
c.
Mempunyai
percabangan dikotom pada tulang daun
d.
Satu
titik rimpang mempunyai banyak percabangan
e.
Sorus
dibawah daun, menyebar dan ditepi daun
f.
Daunnya
makrofil atau daun lebar
g.
Rizhoidnya
merimpang
h.
Mempunyai
rozet diujung daun
i.
Mempunyai
urat-urat daub dab tulang daun
Klasifikasi Pityrogramma Sp :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Pityrogramma
Spesies : Pityrogramma Sp
G.
Blechnum sp
![]() |
Ciri – ciri Blechnum sp :
a. Daunnya memanjang dan menyirip
b.
Pada
tangkai daun terdapat bulu-bulu daun
c.
Pada
daunnya terdapat tulang daun dan urat-urat daun
d.
Memiliki
rizhoid yang lebat
e.
Pada
rizhoidnya terdapat bulu-bulu putih
f. Sorus terapat pada bagian bawah daun disepanjang tepi
secara rapi
Klasifikasi Blechnum sp :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Blechnum
Spesies : Blechnum sp
H.
Drymoglossum
![]() |
Ciri – ciri Drymoglossum :
a. Sorus pada sisi bawah daun, dikanan dan kiri sejajar
dengan ibu tulang, panjang bentuk garis
b.
Daun
tunggal tertata rapi, dimorf, jika mati lepas dari rimpang
c.
Daun
fertil lebih panjang daripada daun steril
d.
Sorus
tanpa indosium terdapat pada sisi bagian bawah daun
e.
Habitatnya
menempel pada pohon teh atau kopi
f.
Tumbuh
didataran rendah mauapun dataran tinggi 1000 m dibawah permukaan laut
g.
Rimpangnya
menjulur dan ditutupi sisik-sisik kecil
h.
Mempunyai
2 macamental yaitu mandul dan subur
i.
Ental
mandul kecil dibandingkan dengan ental yang subur
j.
Sori terletak menggerombol ditepian daun dengan jumlah yang sangat
banyak
k. Ental mandul berbentuk sisik digunakan sebagai obat
Klasifikasi Drymoglossum :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Drymoglossum
Spesies : Drymoglossum Sp
I.
Polypodium sundaicum
![]() |
Ciri – ciri Polypodium sundaicum :
a. Mempunyai daun, batang, dan akar sejati
b.
Habitat
ditempat yang lembap
c.
Daunnya
memanjang
d.
Cara
hidupnya menempel pada pepohonan
e.
Sorus
tersebar tidak beraturan dibagian bawah daun
f.
Mempunyai
tulang daun
g.
Rizhoidnya
merimpang
h.
Batang
tertutup oleh rizhoid
i.
Daunnya
tebal
Klasifikasi Polypodium sundaicum :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Polypodium
Spesies : Polypodium sundaicum
IX. Pembahasan
A. Adiantum
cuneatum
B.
Platycerium coronarium
C.
Cyclophorus nummularifolius
D.
Adiantum tenerum
E.
Nephrolepis falcata
F.
Pityrogramma sp
G.
Blechnum sp
H.
Drymoglossum
I. Polypodium
sundaicum
Dalam sitem pengklasifikasian spesies Pteridophyta
memiliki banyak kesamaan dalam pengklasifikasiaanya pada domain, kingdom, divisio,
classis, ordo, familia, genus dan spesies berdasarkan letak sorusnya, bentuk
daun mikrofil atau makrofil, daun bercabang, memiliki urat-urat daun dan tulang
daun, bentuk rizhoid dan masih banyak faktor persamaan antara satu spesies
dengan spesies yang lain.
Sistem pengklasifikasian spesies pteridophyta berdasarkan
hal-hal sebagai berikut antara lain:
Bisa dimasukan dalam Domain Eukaria karena belum memiliki
membran inti.
Kingdom Plantae karena memiliki persamaan ciri-ciri
dengan tumbuhan seperti berfotositesis, memiliki jaringan pengangkut, dan
memiliki daun, batang , dan akar yang sejati, serta ciri-ciri tumbuhan yang
lain.
Divisio Pteridophyta karena berkembang biak menggunakan
spora, belum menghasilkan biji, memiliki pembuluh angkut, termasuk tumbuhan
kormus.
Classis Filicinae karena daun yang muda selalu menggulung
disebabkan karena sel-sel pada sisi bawah daun lebih cepat pertumbuhannya dan
bau ditiadakan dengan terbukanya daun, daun apikal yang pertumbuhannya lama,
memiliki tulang-tulang dau yang bercabang dengan bermacam-macam pola, daun
pertama mempunyai percabangan dikotom, bermacam sistem pertulangan, daun yang
ujungnya menggulung, batang, tangkai daun kadang sebagian tertutup oleh lapisan
rambut-rambut berbentuk sisik (palea).
Ordo Marginales dan Superficiales karena Ordo Marginales
memiliki sporangium yang berada ditepi daun, sedangkan Ordo Superficiales
memiliki sporangium pada permukaan bagian bawah sporofil.
Familia Polypodiaceae karena memiliki sorus yang
bentuknya bermacam-macam, letak sorus pada tepi atau dekat tepi daun, dapat
pula pada urat-urat daun, berbentuk garis, memanjang, bulat. Sporangium kadang
menutupi seluruh permukaan daun fertil. Sporangium kadang bertangkai dengan
anulus vertikal, tidak sempurna, jika masak pecah dengan celah melintang.
Indusium ada atau tidak ada melekat pada satu sisi berbentuk ginjal atau
perisai dengan tepi rata atau bertoreh. Rimpang merayap atau berdiri, mempunyai
ruas-ruas yang panjang, jarang memperlihatkan batang yang nyata. Daun bermacam-macam
tunggal atau majemuk, dengan urat-urat yang bebas atau saling berdekatan. Akar
dan daun seringkali bersisik.
DAFTAR PUSTAKA
Tjitrosoepomo, Gembong.1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta :
Gadjah Mada University
Press
Campbell, Neil A.1999.Biologi
edisi kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga.








