Kamis, 04 Juli 2013

Laporan Praktikum Pterydophyta



LAPORAN INDIVIDU PRAKTIKUM TAKSONOMI 1
Identifikasi Pteridophyta
Dosen Pengampu: Prasetyo, M.Pd
Description: D:\Picture\IKIP WARNA.jpg
Disusun Oleh:
NAMA: DEWI AMANAH
NPM: 12320170
KELAS: 2E

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2013

       I.            Judul : Pteridophyta
    II.            Tujuan :
1.Untuk mengetahui morfologi tumbuhan pteridophyta
2.Untuk mengetahui tumbuhan yang tergolong pteridophyta

 III.            Manfaat                       :
 a.Dapat menjadi pengetahuan tentang pteridophyta
 b.Dapat mengetahui atau penggolongan karakteristik pteridophyta
IV.       Tinjauan Pustaka         :
            Description: Polystichum setiferum
            Tumbuhan paku (atau paku-pakuan) adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati (Tracheophyta, memiliki pembuluh kayu dan pembuluh tapis) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksi seksualnya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini mempertahankan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.
            Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000, dengan perkiraan 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah yang lembab.
            Paku-pakuan cenderung ditemukan pada kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang lembab, tebing perbukitan, merayap pada batang pohon atau batuan, di dalam kolam/danau, daerah sekitar kawah vulkanik, serta sela-sela bangunan yang tidak terawat. Meskipun demikian, ketersediaan air yang mencukupi pada rentang waktu tertentu diperlukan karena salah satu tahap hidupnya tergantung pada keberadaan air, yaitu sebagai media bergeraknya sel sperma menuju sel telur.
            Tumbuhan paku pernah merajai hutan-hutan dunia di Zaman Karbon sehingga zaman itu dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil dan mengalami mineralisasi sekarang ditambang orang sebagai batu bara.
            Menurut petunjuk-petunjuk paleontologi, banyak yang bersepakat bahwa dari suatu bentuk tumbuhan paku purba terwujudlah tumbuhan berbunga, suatu kelompok tumbuhan yang mendominasi vegetasi masa kini.
            Morfologi
            Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna dengan rimpang yang menjalar di tanah atau humus dan ental (bahasa Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung seperti gagang biola dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu tersusun sebagai daun majemuk.
Daur hidup (metagenesis)
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/8/8d/Prothallium.PNG/220px-Prothallium.PNG
            Daur hidup tumbuhan paku mengenal metagenesis /pergiliran keturunan, yang terdiri dari dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembap. Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.
            Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) juga memiliki daur seperti ini tetapi telah berevolusi lebih jauh sehingga tahap gametofit tidak mandiri. Spora yang dihasilkan langsung tumbuh menjadi benang sari atau kantung embrio.
Klasifikasi
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c1/Acrostichum_aureum.jpg/200px-Acrostichum_aureum.jpg
            Secara tradisional, Pteridophyta mencakup semua kormofita berspora, kecuali lumut hati, lumut tanduk, dan tumbuhan lumut. Selain paku sejati (kelas Filicinae), termasuk di dalamnya paku ekor kuda (Equisetinae), rane dan paku kawat (Lycopodiinae), Psilotum (Psilotinae), serta Isoetes (Isoetinae). Sampai sekarang pun ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok ini disebut pteridologi dan ahlinya disebut pteridolog.
            Smith et al. (2006)[1] mengajukan revisi yang cukup kuat berdasarkan data morfologi dan molekular. Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan Isoetes) merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain, sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain. Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota divisio tumbuhan paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum) ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys), sementara paku ekor kuda (Equisetum') sama dekatnya dengan paku sejati terhadap Marattia.
Dengan demikian, berdasarkan klasifikasi baru ini, tumbuhan paku dapat dikelompokkan sebagai berikut.
Divisio: Lycophyta
dengan satu kelas: Lycopsida.
Divisio: Pteridophyta
dengan empat kelas monofiletik:
Polypodiopsida (=Pteridopsida, Filicopsida)
1.      Ciri-ciri Pterydophyta:
Tumbuhan paku memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berbeda dengan tumbuhan lumut, tumbuhan paku sudah memiliki akar, batang, dan    daun sejati. Oleh karena itu, tumbuhan paku termasuk kormophyta berspora.
b. Baik pada akar, batang, dan daun, secara anatomi sudah memiliki berkas pembuluh angkut, yaitu xilem yang berfungsi mengangkut air dan garam mineral dari akar menuju daun untuk proses fotosintesis, dan floem yang berfungsi mengedarkan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.
c. Habitat tumbuhan paku ada yang di darat dan ada pula yang di perairan serta ada yang hidupnya menempel.
d. Pada waktu masih muda, biasanya daun tumbuhan paku menggulung dan bersisik.
e. Tumbuhan paku dalam hidupnya dapat bereproduksi secara aseksual dengan gemmae dan reproduksi seksual dengan peleburan gamet jantan dan gamet betina.
f. Dalam siklus hidup (metagenesis) terdapat fase sporofit, yaitu tumbuhan paku sendiri.
g. Fase sporofit pada metagenesis tumbuhan paku memiliki sifat lebih dominan daripada
fase gametofitnya.
h. Memiliki klorofil sehingga cara hidupnya hidupnya fotoautotrof.

Berdasarkan fungsinya :
1) Tropofil
Merupakan daun yang hanya berguna untuk fotosintesis. Pada daun ini, tidak dihasilkan spora yang merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan paku.
2) Sporofil
Merupakan jenis daun pada tumbuhan paku yang selain dapat digunakan untuk fotosintesis juga dapat menghasilkan spora. Spora tumbuhan paku terletak dalam sorus yang merupakan kumpulan dari kotak spora (sporangium). Berdasarkan jenis-jenis spora yang dihasilkan, dikenal tumbuhan paku homospora, paku peralihan, dan paku heterospora.
a) Paku homospora
Merupakan jenis paku yang hanya menghasilkan spora jantan atau spora betina saja. Contohnya adalah Lycopodium atau paku kawat.

b) Paku peralihan
Merupakan jenis paku yang dapat menghasilkan dua macam spora, yaitu spora jantan dan spora betina. Namun, spora-spora yang dihasilkan tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya adalah Equisetum debile.
c) Paku Heterospora
Merupakan jenis paku yang dapat menghasilkan spora dengan jenis dan ukuran yang berbeda, yaitu spora jantan dan spora betina. Spora jantan memiliki ukuran yang lebih kecil, atau biasa disebut sebagai mikrospora dan spora betina memiliki ukuran yang lebih besar, atau biasa disebut sebagai makrospora. Contohnya adalah Marsilea crenata (semanggi) dan Selaginella widenowii.






V. Alat dan Bahan : 
                       Bahan  : Tumbuhan paku                                 
VI. Cara Kerja:
a.       Menyiapkan Pteridophyta yang akan di amati.
b.      Mengamati dengan teliti Ptrridophyta secara morfologi.
c.       Menentukan cirri-ciri Pteridophyta secara morfologi.
d.      Membandinglan hasil pengamatan dengan gambar pembanding.
e.       Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan Pteridophyta.
f.       Mencatat hasil pengamatan.















VII. Gambar Pembanding
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXpW_s4S6froPgbyF0cpwkz_VqguV4UNeTm5dH5-HmirLm_rXrTvfRgYmSvzgJJivHI17G7K6tYmO4VsSnLpez-m5xNz0pDEtraR9M5UEi-OiR1k3dYb5wJk66cP5ThwvxCLY6iwr_XYAO/s1600/PAKU+PURBA.jpg   Description: http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTQgGRto56HgBiIDXyp1WVVU5JxiNxc4JOXXhVtinQ3egja8E2Wyw
Psilotum                                                                     Lycopodium cernum              
   Description: http://www.planthis.com.au/images/x_images/plants/25558/Equisetum-ramosissimum-debile-2.jpg     Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPPHpjv7xTXH625Irz6sc5lQeVHjj-0I6gqrMIxwJ7EhfCJntjONiAGXq6nlPArOMaYnBhedOgi0QVR1vqbBsLEA0fmqBLRyfenSJdsBFlM3j2uVq67NsidYxNvRPsLzxnyQMo2HAPNQc/s1600/davallia_denticulata_23.jpg
             Equisetum ramosissimum debile
Description: http://mw2.google.com/mw-panoramio/photos/medium/73170705.jpg   Description: http://flowersnet.info/images/articles/marsilea_crenata.jpg
Adiantum sp                                                               Marsilea crenata
  
VIII. Hasil Pengamatan
A.     Adiantum cuneatum










Ciri-ciri:
a.       Memiliki rizhoid atau rimpang yang berbentuk serabut
b.      Rizhoid atau rimpang merayap dipermukaan tanah tidak masuk dalam tanah
c.       Tangkainya terlihat mengkilap dan kaku
d.      Sorus terletak disisi bagian bawah daun yang berwarna cokelat dibagian tepi daun dan letaknya teratur
e.       Percabangan batang membentuk spiral
f.       Warna daun berwarna hijau
g.      Bentuk daun persegi panjang dengan tepi bergelombang
h.      Tekstur daun tipis
i.        Urat daun terbentuk secara bebas atau tidak teratur
j.        Percabangannya pada batang sangat banyak
Klasifikasi Adiantum cuneatum:
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Marginales
Family : Polypodiceae
Genus : Adiantum
Spesies : Adiantum cuneatum

B.     Platycerium coronarium


 


















Ciri-ciri :
a.       Daun menempel pada pangkalnya atau subtrat dan tersusun seperti genting
b.      Daunnya tebal berdaging
c.       Daun bulat seperti ginjal
d.      Daun yang fertil bergantungan bercabang-cabang menggarpu
e.       Daun berwarna hijau karena mengandung klorofil yang berguna untuk membantu proses fotosintesis
f.       Daun sporofil menempel pada substrat
g.      Ibu tulang bercabang menggarpu dan urat-urat daun saling berdekatan
h.      Bagian yang tidak menempel pada substrat akan keuar akar-akar dan ruang  diantara daun-daun
i.        Rizhoid merimpang pendek dan merayap diatas  permukaan tanah

Klasifikasi Platycerium coromarium :
Nama umum di Indonesia : Paku tanduk simbar menjangan
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Pteridopsida
Sub kelas : Polypoditae
Ordo : Margiales
Familia : Polypodiaceae
Genus : Platycerium
Spesies : Platycerium coronarium


C.     Cyclophorus nummularifolius


 




















Ciri-ciri :
a.       Mempunyai batang yang bercabang
b.      Pada rizhoid memiliki bulu atau rambut (palea)
c.       Daun lebar (makrofil)
d.      Daun berbentuk bulat atau lonjong
e.       Sorus berada ditepian daun yang memanjang
f.       Memiliki urat-urat daun
g.      Daun steril untuk berfotosintesis
h.      Daunnya tebal

Klasifikasi Cyclophorus nummularifolius :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Kelas : Filicinae
Sub kelas : Leptosporangiatae
Ordo : Margiales
Familia : Polypodiaceae
Sub familia : Polypodieae
Genus : Cyclophorus
Spesies : Cyclophorus nummularifolius

D.    Adiantum terenum


 















Ciri-ciri Adiantum terenum:
a.       Sporangium berbentuk sorus
b.      Sorus terletak diujung daun bagian bawah, sorus terlindungi indosium
c.       Daun berbentuk rozet
d.      Daun tersusun spiral
e.       Bentuk daun perisai dan bertoreh
f.       Tangkai daun berdiri tegak
g.      Sorus tertutup oleh indosium
h.      Sorus tertata rapi ditepian daun
i.        Batang mengeluarkan banyak akar dan jika akar tidak masuk ke dalam tanah maka akar itu menyelubungi batang

Klasifikasi Adiantum terenum:
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Marginales
Family : Polypodiceae
Genus : Adiantum
Spesies : Adiantum terenum





E.     Nephrolepis falcata


 





















Ciri-ciri Nephrolepis falcata :
a.       Mempunyai akar, batang, dan daun
b.      Daun yang muda menggulung
c.       Akarnya serabut atau merimpang
d.      Daun berbentuk menyirip
e.       Daunnya makrofil
f.       Memiliki rozet pada ujung daun
g.      Sorusnya terletak pada bagian tepi bawah daun
h.      Daunnya indosium melindungi sporangium


Klasifikasi Nephrolepis falcata:
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Nephrolepis
Spesies : Nephrolepis falcata

F.      Pityrogramma Sp


 












Ciri-ciri Pityrogramma Sp :
a.       Mempunyai urat daun dan tulang daun
b.      Batangnya berupa rizhome atau akar
c.       Mempunyai percabangan dikotom pada tulang daun
d.      Satu titik rimpang mempunyai banyak percabangan
e.       Sorus dibawah daun, menyebar dan ditepi daun
f.       Daunnya makrofil atau daun lebar
g.      Rizhoidnya merimpang
h.      Mempunyai rozet diujung daun
i.        Mempunyai urat-urat daub dab tulang daun

Klasifikasi Pityrogramma Sp :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Pityrogramma
Spesies : Pityrogramma Sp





G.    Blechnum sp


 














Ciri – ciri Blechnum sp :
a.       Daunnya memanjang dan menyirip
b.      Pada tangkai daun terdapat bulu-bulu daun
c.       Pada daunnya terdapat tulang daun dan urat-urat daun
d.      Memiliki rizhoid yang lebat
e.       Pada rizhoidnya terdapat bulu-bulu putih
f.       Sorus terapat pada bagian bawah daun disepanjang tepi secara rapi



Klasifikasi Blechnum sp :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Blechnum
Spesies : Blechnum sp

H.    Drymoglossum


 

















Ciri – ciri Drymoglossum :
a.       Sorus pada sisi bawah daun, dikanan dan kiri sejajar dengan ibu tulang, panjang bentuk garis
b.      Daun tunggal tertata rapi, dimorf, jika mati lepas dari rimpang
c.       Daun fertil lebih panjang daripada daun steril
d.      Sorus tanpa indosium terdapat pada sisi bagian bawah daun
e.       Habitatnya menempel pada pohon teh atau kopi
f.       Tumbuh didataran rendah mauapun dataran tinggi 1000 m dibawah permukaan laut
g.      Rimpangnya menjulur dan ditutupi sisik-sisik kecil
h.      Mempunyai 2 macamental yaitu mandul dan subur
i.        Ental mandul kecil dibandingkan dengan ental yang subur
j.        Sori  terletak menggerombol  ditepian daun dengan jumlah yang sangat banyak
k.      Ental mandul berbentuk sisik digunakan sebagai obat

Klasifikasi Drymoglossum :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Drymoglossum
Spesies : Drymoglossum Sp



I.       Polypodium sundaicum


 





















Ciri – ciri Polypodium sundaicum :
a.       Mempunyai daun, batang, dan akar sejati
b.      Habitat ditempat yang lembap
c.       Daunnya memanjang
d.      Cara hidupnya menempel pada pepohonan
e.       Sorus tersebar tidak beraturan dibagian bawah daun
f.       Mempunyai tulang daun
g.      Rizhoidnya merimpang
h.      Batang tertutup oleh rizhoid
i.        Daunnya tebal

Klasifikasi Polypodium sundaicum :
Domain : Eukaria
Kingdom : Plantae
Divisio : Pteridophyta
Classis : Filicinae
Ordo : Superficiales
Family : Polypodiceae
Genus : Polypodium
Spesies : Polypodium sundaicum














IX. Pembahasan
A.   Adiantum cuneatum
B.   Platycerium coronarium
C.   Cyclophorus nummularifolius
D.   Adiantum tenerum
E.    Nephrolepis falcata
F.    Pityrogramma sp
G.   Blechnum sp
H.   Drymoglossum
I.       Polypodium sundaicum
Dalam sitem pengklasifikasian spesies Pteridophyta memiliki banyak kesamaan dalam pengklasifikasiaanya pada domain, kingdom, divisio, classis, ordo, familia, genus dan spesies berdasarkan letak sorusnya, bentuk daun mikrofil atau makrofil, daun bercabang, memiliki urat-urat daun dan tulang daun, bentuk rizhoid dan masih banyak faktor persamaan antara satu spesies dengan spesies yang lain.
Sistem pengklasifikasian spesies pteridophyta berdasarkan hal-hal sebagai berikut antara lain:
Bisa dimasukan dalam Domain Eukaria karena belum memiliki membran inti.
Kingdom Plantae karena memiliki persamaan ciri-ciri dengan tumbuhan seperti berfotositesis, memiliki jaringan pengangkut, dan memiliki daun, batang , dan akar yang sejati, serta ciri-ciri tumbuhan yang lain.
Divisio Pteridophyta karena berkembang biak menggunakan spora, belum menghasilkan biji, memiliki pembuluh angkut, termasuk tumbuhan kormus.
Classis Filicinae karena daun yang muda selalu menggulung disebabkan karena sel-sel pada sisi bawah daun lebih cepat pertumbuhannya dan bau ditiadakan dengan terbukanya daun, daun apikal yang pertumbuhannya lama, memiliki tulang-tulang dau yang bercabang dengan bermacam-macam pola, daun pertama mempunyai percabangan dikotom, bermacam sistem pertulangan, daun yang ujungnya menggulung, batang, tangkai daun kadang sebagian tertutup oleh lapisan rambut-rambut berbentuk sisik (palea).
Ordo Marginales dan Superficiales karena Ordo Marginales memiliki sporangium yang berada ditepi daun, sedangkan Ordo Superficiales memiliki sporangium pada permukaan bagian bawah sporofil.
Familia Polypodiaceae karena memiliki sorus yang bentuknya bermacam-macam, letak sorus pada tepi atau dekat tepi daun, dapat pula pada urat-urat daun, berbentuk garis, memanjang, bulat. Sporangium kadang menutupi seluruh permukaan daun fertil. Sporangium kadang bertangkai dengan anulus vertikal, tidak sempurna, jika masak pecah dengan celah melintang. Indusium ada atau tidak ada melekat pada satu sisi berbentuk ginjal atau perisai dengan tepi rata atau bertoreh. Rimpang merayap atau berdiri, mempunyai ruas-ruas yang panjang, jarang memperlihatkan batang yang nyata. Daun bermacam-macam tunggal atau majemuk, dengan urat-urat yang bebas atau saling berdekatan. Akar dan daun seringkali bersisik.













DAFTAR PUSTAKA

Tjitrosoepomo, Gembong.1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada                            University Press
Campbell, Neil  A.1999.Biologi edisi kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar